Kendari, TeropongSultra.id-Dugaan kasus korupsi yang menyeret nama Calon Gubernur Sultra Nomor Urut 2, Asrun, diramalkan akan berefek pada runtuhnya elektabilitasnya sebagai calon Gubernur Sultra yang disebut-sebut potensial menang besar. Sebelum insiden penangkapan yang terjadi Rabu (28/2/2018), Asrun dikenal getol mensosialisasikan program kerjanya di sejumlah daerah yang dianggap memiliki kans besar basis massa pendukung.
Namun setelah pemberitaan yang mendorong opini Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beredar luas di media massa, mantan Walikota Kendari itu sepertinya harus rela menenggak pil pahit atas dugaan kasus korupsi yang membelitnya.
Menanggapi hal itu, pakar politik Sultra, Profesor Eka Suaib ikut angkat bicara. Menurutnya, insiden itu merupakan bagian dari konstelasi politik yang tidak bisa diterka.
"Dari sisi Elektoral dan keterpilihannya sebagai calon, mungkin akan berpengaruh, karena yang ditangkap "jantungnya", sehingga secara psikologis itu akan berpengaruh besar terhadap keterpilihannya, Namun lagi-lagi, sebagai bagian dari masyarakat yang cerdas, kita harus mengedepankan asas praduga tak bersalah. Biarkan proses hukum berjalan," jelas Eka.
Eka menambahkan bahwa musibah yang menimpa salah satu kandidat yang mengusung slogan Berkah (Bersama Kita Asrun-Hugua) itu, secara psikologis akan mempengaruhi opini masyarakat, terlebih, Asrun tidak sendirian. Dia dikabarkan bersama dengan anak kandungnya, yakni Adriatma Dwi Putra (ADP), Walikota Kendari, saat pemeriksaan berlangsung di Markas Polda Sultra.
"Efek psikologisnya adalah opini masyarakat akan terjun bebas, cenderung memperngaruhi keterpilihannya, apalagi beliau (Asrun), tidak sendiri. Ada ADP disitu. Keduanya sama-sama pollitisi. Jadi dari insiden ini, bisa saja ada rival atau oposisi yang akan diuntungkan," pungkasnya.
Penulis: Ceponk
Editor: Dika
Tags :
